Davana 6 - Family.


Cinta itu sederhana
Yang rumit itu kamu
Mencintaimu itu mudah
Yang sulit itu
Membuatmu juga mencintaiku

Rumit ~ Langit Sore


Hari ini Hari Minggu, Vana masih bergelut dengan selimutnya yang masih membungkus badannya di atas kasur kesayangannya. Pagi ini Vana berencana akan tidur sampai siang karena dia tidak memiliki rencana keluar di hari ini. Kemarin setelah pulang dari kampus bersama dengan Stephany dan Renata mereka pulang hingga sore hari karena bermain seharian di timezone. Jadi biarkan saja dia tidur hari ini karena badannya sangatlah lelah. 
“Vana bangun, ayo sarapan dulu papa udah nunggu loh” seruan sang Mama membangunkan Vana. 
Orang tua Vana sudah kembali ke rumah karena bisnis yang di urus sudah selesai dan mereka hanya cukup untuk pulang pergi untuk bekerja ke kantor, tidak perlu harus menginap beberapa bulan di negara orang. 
Bisnis yang di punyai orang tua Vana memang berkembang pesat karena sudah memiliki cabang di berbagai kota besar serta memiliki relasi di China. Karena itulah yang menyebabkan mereka sering pergi meninggalkan anak semata wayangnya ini. Dan sekarang mereka ingin kembali seperti dulu karena merasa kasihan dengan Vana yang selalu ditinggal sendiri tanpa diperhatikan. 
“Vana ayo sayang bangun!” nampaknya Vana masih enggan untuk bangun hanya sekedar ikut sarapan bersama orang tuanya. Akhirnya Mila –Mama Vana- masuk kekamarnya untuk membangunkan anaknya itu.
“Van, bangun dulu nanti setelah sarapan boleh tidur lagi sayang” usap sang Mama pada lengan Vana. 
“Enghh.. Mama” Vana mencoba mengumpulkan nyawa yang berkumpul. “Iya sayang ayok sarapan, kamu cuci muka abis itu turun ya. Mama sama Papa udah nunggu” tinggal sang Mama. 
“Hm iya Ma” Kini mereka telah sarapan bersama. 
Sudah lama sekali mereka tidak makan bersama di meja makan ini dan kali ini mereka sangat bahagia bisa merasakan kehangatan kembali keluarga ini. 
“Gimana kuliah kamu sayang” Tanya Steve, Papa Vana. 
“ Ya gitu Pa, lancar lancar aja” jawab Vana. Saat ini mereka sudah menonton TV di ruang keluarga setelah sarapan. Rencana untuk tidur Vana ganti dengan kangen kangen ria dengan mereka. 
“Jangan terlalu sering bandel Van, memangnya Papa tidak tahu kalau kamu sering bikin onar” Ucap Steve, pada putrinya. 
Jangan kira mereka selama ini tidak memantau anaknya karena mereka tidak mungkin membiarkan Vana disini sendiri tanpa pengawasan sedikitpun. 
‘Papa ih ga tau Vana aja, Cuma bercanda aja Pa hehe, abisan sepi, gak seru kalau hidup itu gak ada kenangan” begitulah Vana. 
“ yang dibilang Papa benar sayang, nanti kalau mereka gak terima terus kamu di gituin balik gimana?” ucap Mila membenarkan apa yang dibilang suaminya. “hm,, iya Ma. Insyaallah akan dikurangi hehe” kekeh Vana sambil ngemil cemilan yang dibuat Mila. 
Begitulah Vana jika berkumpul dengan orang tuanya Vana akan manja ke mereka. Sebenarnya Vana tidak ingin melakukan itu hanya gabut saja gak ada permainan gak seru, makanya suka bully. Tapi kalau untuk playgirl dulu itu mereka saja yang mau, Vana mah tinggal terima toh gak rugi juga dapat supir gratis. 
Namun setelah mengenal Dava dan menyukai cowok itu Vana sudah meninggalkan itu semua. Tapi kalau untuk membully sudah menjadi kebiasaan salahkan sendiri mereka yang terlalu lemah. Menghadapai Vana saja sudah takut apalagi kerasnya hidup ini.  
Mengingat Dava, hari ini dia belum sama sekali membuka HP nya apakah ada chat dari pemuda itu atau tidak. Dan sepertinya mustahil untuk jawaban yang pertama, karena mana mungkin pemuda itu chat tanpa Vana dulu yang memulai. Mengingat itu membuat Vana jadi kesel sendiri dan hanya menghela napas. 
“ Sayang hari ini kami akan mengunjungi nenek dan kakek, kamu mau ikut?” tanya Mila. 
“ Sampai kapan Ma?” “Nanti sore kalau gak malam nanti Papa dan Mama sudah pulang” 
“ oke deh ikut ya Ma, Kangen juga sama mereka” 
“Oke kamu siap siap sana ya” 
“Oke Ma, aku ke atas bentar ya Ma” pamit Vana. Setelah itu Steve, menyiapkan kendaraan untuk mengunjungi orang tua nya.  
Setelah Vana sudah siap dia mengambil tas selempang dan hape nya dan bersiap untuk turun, juga tak lupa untuk melihat chat yang masuk. 
MAS DAV Vana : Hai mas ^^ (centang dua abu abu ) Ternyata tidak online mungkin pesannya sudah masuk dan belum dibuka oleh penerima.  
Setelah itu mereka melakukan perjalanan ke rumah kakek dan nenek ditempuh selama kurang lebih setengah jam. Setelah itu sekitar pukul 11.00 WIB mereka sudah sampai dirumah Kakek dan Nenek. 
“ Assalamualaikum” Ucap Steve, memasuki rumah orang tuanya. “Waalaikum salam siap.... Eh Steve Mila kalian gak bilang kesini ” ucapan Kakek saat melihat anak dan menantunya datang berkunjung. Disusul nenek yang datang dari dalam ruang keluarga. 
“ Ayah Ibu gimana  kabarnya sehat?” tanya Mila. 
“ Seperti yang terlihat alhamdulillah sehat” Jawab Kakek , nenek pun terkekeh melihatnya. 
“ Sukurlah kalau begitu” 
“Pa Ma,, nih liat aku dapet mangga banyak minta Kakek Dayat rumah samping Pa” ucap Vana memasuki rumah Kakek. 
“ Wah Vana ikut juga ya, cucu kakek yang manja dan nakal ini sudah besar ya” melihat vana membawa sekantong kresek hitam mangga dari Temannya, Dayat. “Haha iya dong Kek,” Vana sambil menyalami Kakek dan Neneknya. 
“ Kek aku mau lihat ke ruang perpustakaan ya kek sambil makan ini mangga” ucap Vana.  
Memang dirumah ini ada ruang kecil untuk kumpulan buku milik kakeknya. Kakeknya itu suka sekali membaca buku. Mungkin hobi itu menurun ke Vana yang suka menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk baca setumpuk Novel. 
“ Boleh dong, jangan kebanyakan makan mangga ya, nanti perutnya sakit” peringat sang Nenek. 
“ Siap Komandan” Vana segera membawa mangga yang sudah dia cuci untuk dibawa ke ruang yang dituju dan sisanya dia tinggal begitu saja di meja makan bawah.  
Ruangan itu berada di lantai atas dengan balkon yang tersedia ada satu meja dan dua kursi disana membuat Vana betah dirumah Kakeknya ini. Tak butuh waktu lama Vana sudah fokus dengan Novel Romance yang dia baca. Tapi itu tiba tiba terhenti karena dari depan dari rumah kakek Dayat ada sesorang yang memanggilnya.  
Setelah Vana menengok ternyata WHAT!! 
“ Eh Van ngapain lu disitu” ucap pemuda. 
“ Ya lu ngapain lu juga disitu kampret ngagetin gue aja, gue pikir siapa. Kok lu disitu ngapain lu” 
“heh, kalo nanya tu satu satu, dasar cabe lu ya. Ya wajar dong orang ini rumah kakek gue” 
“ what, kakek Dayat kakek lu, kok ga matching sih, kakeknya baik, cucu nya bahlul kek lu” 
“ dih, gak disini gak di kelas ngeselin lu gue sumpahin si Dava gak bakal mau sama lu nyet!” 
“ Kambing lu ya Di” 
Iya. Pemuda tadi adalah teman kelasnya Dion Prasetya. Dasar temen kampret emang. Tak lama ada pesan masuk di hapenya.  
MAS DAV Vana : Hai Mas ^^. Mas Dav: Ya. Kenapa!Vana : hehe gapapa manggil tok, ngecek siapa tahu udah gak bisa ngetik biasanya Cuma Y doang WKWKWK. Mas Dav : Hm. 
Yah tuhkan, dasar manusia batu kampret. ahh. tambah pusing Vana. Setelah itu Vana turu. untuk turun karena Kakek dan Nenek sudah memanggil untuk makan siang.  
"Kenapa tadi ribut ribut Van?" tanya Mama. "Itu tadi Ma, ada temen aku aku di rumah Kek Dayat, katanya cucu nya Kek Dayat." Adu Vana. "Oh itu pasti Dion" kata kakek. "Iya, kek Dion Kampret!" ucap Vana. "Van mulutnya!" Sela Steve. "Aha sorry Pa, kebablasan" ucap Vana. "Ya suah ayo makan" ajak nenek. 
setelah itu mereja bersantai ria hingga setelah waktu menunjukan waktu pukul 5 sore mereka pulang. 
"Ayah Bu, kami pamit pulang ya" pamit Steve. "Hati- Hati, nanti main lagi ya kesini bawa Vana juga" "Pasti Kek" "Vana sayang sini bentar" Vana mendekat ke Kakek. "Apapun yang kamu hadapi selama itu ga merusak orang lain selama itu gak merugikan orang lain. kamu harus selalu berusaha. Buktikan Pada orang lain bahwa kamu bisa jadi yang terhebat"  Ucap Kakek sambil mengelus kepala Vana dengan sayang. 
Vana yang mendapat perlakuan itu merasa tersentuh dan langsung memeluk kakeknya. 
" Makasih Kakek, Vana akan ingat pesan kakek" 
"Vana pulang ya kek" Pamit Vana. 
"Hati hati ya" 
"Kami pulang yah bu" 
setelah itu mereka pulang kerumah. 

Yeay thanky for readingπŸ’™.Previous Part :https://bulubabi1.blogspot.com/2020/04/davana-5.html?m=1

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer