DAVANA



Hari ini hari dimana puncak acara DIES NATALIS tampak mahasiswa dan mahasiswi sangat menyambut acara ini. Kampus mengundang beberapa bintang tamu yang karyanya mungkin tak asing lagi untuk didengar.

Mahasiswa wajib untuk menyumbangkan kontribusi dari setiap kelas atau mungkin mereka yang ingin memperlihatkan kemampuan di persilahkan.

Penampilan demi penampilan telah disaksikan hingga tiba saatnya dance untuk Vana Group. Mereka mendapatkan tepuk tangan yang meriah tak kalah dengan Salsha Group yang tampil sebelumnya. Mereka memang menampilkan terbaik dan membuat keduanya sangat memukau.

Saat ini Band Last Child sedang menghibur mereka dengan lagu Tak Pernah Ternilai yang disambut histeris oleh cewek cewek yang merasa lagu ini tepat dengan apa yang mereka rasakan.

“Ren, gue haus ke kantin yuk” Vana berucap sedikit keras karena memang suasana ramai oleh jeritan cewek cewek yang ikut ambyar didepan panggung. Merasa tak dapat balasan dari Renata. Vana berteriak “ REN GUE HAUS”. Tapi sepertinya Renata sedang menikmati suasana ambyar ini, lebih baik dia ke kantin sendiri.

***

“Makasih Bu” Vana telah membeli minuman dingin saat berbalik hampir saja dia memuncratkan  minumannya yang baru masuk ke mulut. Karena sosok yang selama ini dia kejar tiba tiba berdiri di belakangnya menatapnya, Dava.

“Emm... Kenapa?” vana yang ditatap Dava jiper sendiri.

Detik itu juga Vana merasa dunianya berhenti karena Dava melilitkan jaketnya di pinggang cewek itu. Saat ini  Vana mengenakan kaos polos pendek warna putih dan jeans hitam dan rambut yang di ikat tinggi. Memperlihatkan leher jenjangnya yang membuat cowok cowok menelan ludah. Kaos dengan panjang tidak sampai menutupi pinggangnya membuat dia menjadi pusat perhatian saat memasuki kantin.

“ Lain kali beli baju yang udah jadi. Jangan baju belum jadi dibeli” ucap Dava dan berbalik meninggalkan Vana yang melongo atas ucapan Dava.

Demi tugas yang gak selesai selesai dari dosen. Gue gak bakal mandi seminggu biar wangi jaket Dava bisa dia hirup setiap hari. Batin Vana saking senangnya.

***

“Dav gue lihat akhir akhir ini lo deket sama si Vana udah taken nih?” tanya Doni. Saat ini mereka sedang berkumpul di kamar Dava. seperti biasa. “ Engga” jawab Dava. Dava saat ini sedang fokus denganm game di hp nya. Tak menoleh ke arah Doni.

“kenapa gak lo coba aja pacaran sama Vana” ucap Choki yang mendukung Vana mendapatkan Dava. “ Lo pikir perasaan cewek itu coba – coba” jawab Dava.

“Bukan gitu maksudnya Dav, ya lo coba buka hati lo buat dia, kalo lo bilang perasaan cewek itu gak coba – coba pasti lo bisa rasain kan itu perasaan dari hati atau Cuma sekedar obsesi sama lo. Lo bisa rasain apa yang dia rasain. Menurut gue itu udah ngebuktiin gimana perasaan Vana buat lo. Lo harus belajar menghargai selagi ada. Jangan sampai lo nyesel dikemudian hari. Wah gimana omongan gue udah kayak pakar pakar cinta belom?” ucap Doni.

“ Bangsat gue udah denger dari dengan baik. Lo akhirnya malah gitu Don” kesal Tohar.

“EIT tapi yang awal gue serius Dav, lo bisa pikirin omongan gue” Ucap Doni yang tak biasanya bisa seserius ini.

Dava yang sedari tadi menatap hape nya. Ternyata melihat foto sosok yang dia bicarakan. Karena gamenya telah game over tepat saat choki berbicara tadi.

***

Sebentar lagi UAS akan dilaksanakan dan segera mereka menyambut semester baru. Waktu kuliah sudah semakin tinggal sedikit dan kehidupan yang sebenarnya sebentar lagi dimulai. Semester ini sudah beruap uap ria dengan berbagai macam penelitian dan sebagainya.

Vana berjanji pada diri sendiri bahwa dia bisa memberikan yang terbaik untuk Papa Mama nya. Renata dan Stephany pun tak kalah mereka juga semakin rajin dan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk orang tua masing-masing.

Dava dan teman temannya juga sudah fokus pada diri masing masing untuk menyelesaikan pendidikannya. Namun hal itu tak merubah kebiasaan mereka untuk berkumpul walau hanya sebentar tidak sesering biasanya. Komunikasi tetap berjalan dan pendidikan tetap utama.

Banyak yang mereka lalui dari semester awal hingga akhir dan banyak pelajaran hidup yang tidak mereka dapatkan sebelumnya. Teman, sahabat, pendidikan, keluh kesah, kegilaan, keresahan, kegelisahan dan Cinta, kasih sayang. Semua mereka alami dan mengalir begitu apa adanya.

Vana terlalu lelah untuk menggapai Dava. sudah jatuh bangun berkali kali namun Vana masih memiliki kekuatan. Tapi sepertinya Vana harus sadar diri mulai saat ini.  Namun siapa sangka disaat semua telah ia rasakan tak akan ada yang namanya sia sia di ujung penantiannya.

“Kalo kamu gak bisa aku miliki seperti yang aku inginkan” Vana belum melanjutkan perkataanya. Matanya menatap Dava yang saat ini didepannya menatap nya pula dengan tatapan yang tak bisa Vana artikan. Vana terlalu bodoh untuk mengerti arti tatapan itu.

“Bisa kita jadi teman atau sahabat?” vana bersusah payah mengatakan sesuatu hal yang tak ingin ia ucapkan.

“ Jadi lebih dari teman buat gue Van” ucap Dava. Hah? Maksudnya apa? Vana terlalu pusing untuk mencerna ucapan Dava barusan.

“ Hah?” Vana masih tidak mengerti.

“ Jadi sahabat?” ucap Vana lagi.

“ Lebih dari sahahat buat gue” ucap Dava, dan detik itu juga Vana merasa tidak ingin waktu berjalan ingin lebih merasakan hangatnya rengkuhan sosok ini. Hingga nanti.

.

Saat ini mereka sedang makan siang bersama di cafe depan kampus.

“ Kenapa kamu  dulu ngejar ngejar aku? Banyak  lebih dari aku. Gak tahu malu banget ” ucap Dava dengan kekehan di akhir kalimatnya.

Vana yang diseberang menatap tajam Dava karena di bilang gak tahu malu. Akhirnya dia tersenyum menatap Dava “ Semakin aku ngejar kamu. Semakin besar peluang yang aku dapatkan buat ngedapetin kamu. Dan see? Terbuktikan haha”

Dan Dava akan tetap selalu yakin bahwa Vana tetap keras kepala. Seperti sebelumnya.

 END.. 

Terimakasih telah membaca hingga saat ini. Mungkin endingnya tidak seperti yang kalian bayangkan. Ini hanya ke isengan masih banyak ketidak jelasan. MOHON MAAF DAN TERIMAKASIH.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer