DAVANA PART 2

Hallo guys.. wellcome to my blog 😁👻

Karena temen gue yang baca DAVANA di blog gue sebelumnya ngerecokin mulu nyuruh lanjutin cerpen gue, maka dengan berbesar hati dan senang hati *belibet* gue bakal nglanjutin itu cerpen wkwk. Buat kaelan kalean yang kemarin nungguin lanjutannya so happy reading and enjoy it guys!! Don’t forget to comment and share.

buat kalean yang belom baca part sebelumnya bisa klik link ini ya : https://bulubabi1.blogspot.com/2019/05/davana.html  

SORRY GUYS BANYAK KATA YANG TIDAK LULUS SENSOR HAHA
YANG GAK SUKA GAK USAH BACA!!
CEKIDOT!!!

Keesokan harinya semua mahasiswa di kelas Vana sibuk dengan kegiatan masing-masing ada yang menyalin tugas, ada yang sedang ber chating ria dengan gebetan dan sibuk teriak teriak karena teman mereka yang usil, siapa lagi jika bukan Dion, cowok dengan nama lengkap Dion Prasetya yang mempunyai sifat gila dan suka usil pada teman cewek dikelasnya tapi jangan salah Dion adalah cowok yang baik dan gak pilih pilih dalam berteman.

Namun berbeda dengan Vana, gadis itu dengan santainya baru saja memperlihatkan batang hidungnya di kelas yang mana sudah seharusnya dimulai 5 menit yang lalu namun Dosen belum hadir karena masih rapat dengan dosen yang lain.

“Jam berape ini Van?” tanya Dion
“ Lo gak bisa liat sendiri di jam lo ini jam berapa, apa perlu gue bawain kacamata yang gede” jawab Vana gak nyante.
“hehe ampun bosku, canda elah hihi” jawab Dion yang merasa takut dengan Vana yang di tertawakan kedua sahabat Vana.
“ Mamposs lo makanya diem aja kalo gak mau disemprot sama ni cabe” kata Stephany.

Vana hanya melirik dua sahabatnya dan langsung duduk dibangku depan Stephany. Renata yang merasa gak beres dengan ini semua langsung bertanya pada Vana.

“ Lo kenapa Van?” tanya Renata. Karena gak biasanya Vana datang ke kelas dengan mode senggol bacok seperti ini, ini pasti ada hubungannya Dava, siapalgi jika bukan cowok itu yang bisa membuat mood Vana berubah ubah seperti ini.
“ Enggak, gak papa” jawab Vana
“Alahh,, jangan bohong! Gue tau elu nyet, gak kayak biasanya lu” kata Renata yang kepo dengan mood Vana kali ini.
“ udahlah Ren biarin aja dulu si Vana sendiri mungkin dia butuh waktu sendiri buat nenangin diri” kata Stephany yang sebenarnya juga kepo dengan Vana.

Setelahnya mereka berkutat dengan kegiatan masing-masing si Vana yang merem di bangkunya, Renata yang sibuk mendengarkan musik dengan earphone ditelinganya dan Stephany yang mengecat kuku dengan teman yang lain. Sebenarnya jika dikelas mereka juga dapat berbaur dengan teman yang lain, hanya saja tidak banyak yang berani mungkin hanya beberapa saja.

“Guys. Gue mo ngasih tau nih kalo Pak Dio gak bakal masuk tapi kita dikasih tugas” kata ketua kelas, Sasa.
“Wah yang bener lo Sa?” tanya Stephany.
“Iya stepy cantikk, nih barusan gue di chat pak Dio, beliau gak masuk karena kemungkinan rapatnya masih lama” jawab Sasa.
“oke”
“Ren, Van ngantin yok laper nih gue” ajak Stephy. Tapi tak ada tanggapan dari kedua temannya. Karena jengkel gak ada tanggapan Stephy mengetuk kepala Renata, wkwk dengan sedikit tidak nyante.
“Adohh, bangke sakit anjir!!” jerit Renata. Teman kelas yang lain hanya menggelengkan kepala melihat itu semua. Memang sudah biasa hal seperti itu mereka lihat di kelas.
“makanya, kalo dipanggil jangan budek. Budek beneran baru tau rasa lo” kilah Stephy.
“Van, ayok kekantin gue laper!!” kata Stephy gak nyante. Lagi.
“Gue males, mau tidur aja” jawab Vana.

Tuh kan. Gak biasanya. Batin mereka berdua. Padahal ini anak suka makan. Walopun gak makan juga ntar kan bisa ketemu sama Dava di kantin.

“Lo sakit?” tanya Renata. Namun tidak di jawab dengan Vana hanya deheman cewek itu.
“yo dah gue sama Stephy ke kantin yak. Ntar gue beliin air sama roti kesukaan lo” pamit Renata pada Vana.
Pada saat menuju kantin mereka berdua sibuk memikirkan kenapa dengan Vana.
“Vana kenape ya Ren?” tanya Stephy.
“gak tau juga gue, padahal tuh anak kan gak bisa nolak kalo diajak makan, palingan kalo gak makan nanti kan bisa ketemu ayang Dava, tapi kok ini gak mau sih” kata Renata.
“ya udahlah mungkin dia pengen tidur aja” kata Stephy.

Sesampainya mereka ke kantin mereka langsung mencari tempat yang kosong dan segera pesan makan karena sudah terlalu lapar. Tak menghiraukan tatapan Dava dkk, yang berada dipojok ruang kantin yang saat ini memperhatikan mereka berdua. Setelah pesanan mereka datang mereka langusng menyantap makanan mereka dengan lahap tak menghiraukan tatapan teman yang lain.
***

Sedangkan ditempat Dava dkk mereka merasa aneh, tumben Cuma dua cabe yang datang ke kantin sedangkan ratu nya tidak ada.
“ itu kok tumben sih si duo galak Cuma ber dua ceweknya Pak Bos kemane?” tanya Doni pada yang lain.
“ iya,cewek lo kemana Dav?” tanya Reygan.
“Gue gak punya cewek” jawab Dava.
“ Yelahh si Kutil Badak, cewek cantik  gitu di anggurin apalagi maemunah yang Cuma secuil kuku” lebay si Toba.
“Berisik!! Gue cabut. Bayarin ” Dava langsung beranjak dari duduknya meninggalkan teman temannya yang menganga melihat kelakuannya.

Untung ganteng, batin mereka kompak. Lah apa hubungannya, wwkwk
Pada saat di koridaor menuju perpustakaan, Dava tidak sengaja melihat Salsha yang juga akan masuk ke Perpusatakaan fakultas Ekonomi. Pasti kalian bertanya kenapa Salsha yang notabene anak sastra bisa ke perpustakaan Ekonomi, jawabannya simple karena Salsha mahasiswi teladan dan dikenal para dosen, sehingga banyak dosen yang meminta Salsha untuk membantu mereka, baik itu dosen Sastra atau dosen lain yang kebetulan mengajar di kelas Salsha.

“ Hai, Dav? Mau ke perpus juga?” tanya Salsha kala melihat Dava.
“ hm “ jawab Dava.
“ehmm. Bareng yuk, gue juga lagi nyari buku yang tadi disuruh sama Pak Bo” kata Salsha. Iya, Pak Bo juga mengajar di Mahasiswa sastra tidak hanya di Ekonomi. 
“oke” kata Dava singkat.

Akhirnya mereka masuk ke perpus bersama-sama. Hal itulah yang membuat anak kampus yang lain mengira bahwa mereka memiliki hubugan khusus, lagi pula banyak yang mengatakan mereka cocok. Dari segi paras, sama sama cantik dan ganteng, dari segi otak ga usah ditanya, semua warga kampus juga tau kalau mereka berdua sering menjadi partner dalam lomba antar kampus. Namun juga ada beberapa yang mengatakan Dava lebih cocok dengan Vana, entah mengapa namun mereka melihatnya seperti itu.
***
Setelah kedua sahabatnya kembali ke kelas dengan membawakan air mineral dingindan roti kesukaannya, Vana memakan pemberian mereka dengan paksaan karena Renata dan Stephany tidak mau jika Vana maaghnya kambuh, karena itu akan merepotkan. Bukan, bukannya mereka tidak mau direpotkan oleh Vana hanya saja jika Vana sudah kambuh itu akan sangat tidak baik untuk Vana.

“ Lo kenapa Van, cerita sama kita kali kalo ada masalah” kata Renata.
“ kenapa kalian berdua?” tanya Vana balik dengan ekspresi nyengir.  
“ Lah bego!! Ditanya malah tanya balik” kata Stephy jengkel.!
“ HAHAHA santai gak papa gue! Tadi Cuma laper aja terus ngantuk” jawab vana dengan kalem.
“ Bangkee, jadi lo!! Astagfirullahh punya temen gini amat Gusti!” kata Stephy.
“ eh ntar abis ini gak ada jam kan? Keluar yuk, kemana gitu lagi setress nih gue” ajak Renata.
“ KUYY LAH !!” jawab keduanya. Dan akhirnya mereka tertawa seperti biasanya..
***
Sedangkan di perpustakaan Salsha dan Dava, mereka masih mencerna isi buku yang mereka baca masing-masing. Hingga akhirnya suara yang didengar Dava membuat konsentrasinya terbagi.

“Eh gue kemarin pas jalan sama temen gue ngeliat Vana di salah satu Mall sama cowok gandengan tangan lagi, mesra banget” kata cewek yang padahal itu adalah anak kelas Vana juga. Mega.
“ Terus apa hubungannya sama kita” sahut temennya.
“ Ya ada lah. Kita liat deh dia aja di kandangnya suka ngejar ngejar Dava, yang jelas jelas gak suka sama dia, jangankan suka, ngelirik aja enggak, sedangkan di lain tempat suka jalan dan maen bareng sama cowok lain” kata Mega.
“ iya juga ya, dasar sekali Cabe tetep aja Cabe” kata temennya.
“ iya, gue juga sebel deh di kelas sama anak itu dan temen temennya. Mentang mentang di backing sama cowok cowok jadi ngelunjak” kata temen yang satunya lagi.
“ iya. Ya udah sih ga usah ngomongin mereka, gatel mulut gue!”
“ Ya udah balik yuk, katanya dosen ga jadi masuk. Pulang yuk, atau keluar gitu”
“ Oke yuk” akhirnya mereka bertiga pergikeluar perpustakaan.

Sedangkan Dava dan Salsha yang gak sengaja mendengar mereka tadi, hanya diam tanpa bersuara.
“ jangan dipercaya Dav, mungkin mereka salah liat dan mungkin itu emang temennya Vana atau saudara” kata Salsha
“ Bukan urusan gue” jawab dava lalu melangkah pergi meninggalkan perpustakaan mencari temen temennya yang lain.
“ Dari mana aja Dav?’ tanya Choky.
“Perpus” jawab Dava,
“ Dav, abis ini maen basket yuk, ke tempat biasa” ajak temen temennya.
“ Oke, ntar jam 4 udah harus ngumpul ya” kata Dava
“ Oke, Boss, gue pulang dulu bye!” pamit Doni.
“ Lah mau kemana BABI masih ada kelas ini” teriak Choki.
“ Gue ijin, mau ngedate sama anak Komunikasi, cantek” cengir Doni sambil menghilang di balik pintu kelas.
Sedangkan yang lain hanya memutar bola mata. Bosan dengan kebiasaan doni yang tak berubah.
****
“ Gue suka cara kalian, haha kita liat nanti siapa yang akan dapetin Dava” Ucap seorang cewek pada 3 cewek lainnya.
“ hahah itu mah kecil, asal ntar bisa dapetin Reygan hahaha, gue akan bantu lu” Ucap salah satu dari 3 cewek itu.
“ tenang aja, semua akan berjalan lancar” Ucap seseorang itu.
***
Saat ini Vana, Renata dan Stephany sedang bermain di timezone mereka nampak asik menikmati permainan yang ada, setelahnya mereka belanja apa yang mereka inginkan.

“ Gue mau beli sepatu deh, lo berdua mau beli apa?” tanya Renata
“ Gue mau gak mau beli apa apa, Cuma gue mau baca novel aja” ucap Vana
“ Lah, kenapa gak beli nove aja Van?” tanya Stephy
“ Ogah, sayang duit lagian bisa baca gratis ini kalo disini. Hahah “ jawab Vana
“ Bangke emang lo, giliran beli kuota buat nyepam Dava aja, lo gercep tapi buat beli novel, lo kere. Dasar kutil badak emang” kata Renata.
“ hahaha bodo amat selagi bisa gratis kenapa harus beli. Inget itu prinsip gue* eh itu Prinsip penulis sih wkwk*
“ Kambing!!!” sedangkan kedua sahabatnya sibuk menyumpahi dirinya, Vana asik berjalan menuju rak Novel dan Komik serta lainnya.

Vana itu sebenarnya tidak bodoh bodoh banget dalam prestasi, namun karena malas itulah penyebab dia jarang mengerjakan tugas dari dosen dan suka telat sehingga banyak yang mencap buruk dirinya. Padahal belum tahu kehidupan Vana yang sesungguhnya. Seperti itulah manusia, mereka pandai menilai orang lain, namun buta dalam menilai diri sendiri.

Vana juga suka menulis, karena dia pernah cerita pada kedua sahabatnya, bahwa dia ingin menjadi penulis best seller. Maka itulah Vana lebih suka menullis dan membaca Novel, baik itu novel romance, horror, action ataupun lainnya, namun dari sekian banyak genre yang dibaca Vana lebih suka Genre Comedy, Romance, Action. Eh itu sih semua ya wkwk. Apalagi jika ketiga genre itu digabung bisa membuat Vana lupa akan segalanya sampai lupa waktu  bahkan pernah Vana membaca novel semalaman sampai pagi tapi itu bukanlah alasan Vana untuk bisa melupakan Dava WKWKWK.

Saat asik membaca seseorang menghampiri Vana dan memeluk dari belakang.
“ Hai Vana, gak kangen sama gue” kata orang tersebut
“ Ngapain lo disini bangsat, pergi jauh jauh dari gue” kata Vana
“ santai sayang, kalem, udah lama kita gak bertemu ya, makin cantik aja” kata orang itu lagi.
“ Pergi atau gue teriak” kata Vana
“ Oke-oke aku pergi samapi ketemu nanti bye” ucap orang itu sebelum pergi dari hadapan Vana
Ternyata ada seseorang yang melihat kejadian tadi.
“ sayang aku udah dapet buku  yang aku cari, kita pulang yuk” ajak ceweknya
“ yaudah, yuk habis ini makan dulu ya, soalnya nanti aku mau langsung basket sama temen temen aku” ucap Doni.
“ Oke,yuk”
Akhirnya mereka meninggalkan Mall menuju restoran terdekat.
***

" GUE SUKA CEMAS BERLEBIHAN, APALAGI SAAT LO GA ADA KABAR. 
PADAHAL GUE BUKAN CANDU NARKOBA" :v :) 

AHAHA SEGITU DULU YA GUYS

Jangan lupa komen buat lanjut wkwk kao masih niat sih mau lanjut

See you guys :*
Salam,
Pejuang hati yang beku, eak haha

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer