DAVANA

Hello guys comeback again

Kali ini gue mau ngepost cerpen amatir ga usah banyak omong cuss!! Hope you enjoy it!
*kalian ngebo gue nulis* J

Hari senin menjadi hari yang menyibukkan untuk sederet orang pekerja baik kantor maupun pemerintah dan juga anak sekolah serta para mahasiswa. Biasanya hari senin identik dengan upacara bendera tapi berhubung mahasiswa gak upacara bendera lagi namun setumpuk mata kuliah dan tugas menanti untuk disentuh yang empunya.

Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi seorang Vana dengan nama lengkap Shevana Alexandra. Gadis cantik ini masih bergelung mesra dengan selimut spongebob kesayangannya dikamar nya yang berukuran cukup menampung satu teman genk-nya untuk sekedar ngobrol bahkan untuk perang bantal sekalipun. Alarm yang berbunyi sejak 1 jam yang lalu sudah dia banting ke pojok ruangan namun untungnya jam alarm berbentuk owl itu masih dapat berfungsi meskipun si majikan sering memperlakukan yang tidak baik.

Hingga sinar matahari yang terlalu bersemangat untuk membangunkan manusia dan menyinari bumi menembus celah pada jendela kamarnya barulah dia bangun. Setelah meregangkan otot nya karena terlalu menikmati tidurnya Vana beranjak dari tempat tidur dengan mata yang masih setengah terbuka. Beranjak ke kamar mandi yang ada dikamarnya sembari menyambar handuk yang selalu tergantung di dekat pintu kamar mandinya itu.

Setelah 30 menit dia sudah siap untuk pergi ke kampus untuk mengikuti kelas yang mungkin saat ini beberapa temannya sudah menghuni kelasnya. Dengan setelan jeans hitam dan kemeja andalannya dia siap untuk meluncur kekampus dengan mobil sport warna merah menyala. Iya, hidup dengan serba berkecukupan membuat apa yang diinginkan Vana selalu terpenuhi apalagi oleh Ayah nya yang sangat menyayangi Vana karena Vana merupakan anak satu satunya dikeluarga tersebut.

Setelah mengemudi mobil sekitar 15 menit terlihat gerbang tempat Vana menempuh pendidikan kuliahnya “UNIVERSITAS NUSA BANGSA” Sampai di kampus Vana memarkirkan mobilnya ditempat biasa dia parkir, iya bersebalahan dengan mobil sport warna hitam mengkilap milik Dava cowok dengan nama lengkap Dava Mahendra. Cowok dengan tampang yang nyaris dibilang sempurna, bagaimana tidak, coowok dengan tingkat kepintaran yang tidak perlu diragukan, Mahasiswa jurusan Bisnis yang menjadi incaran para cewek. Tidak hanya itu sikap nya yang cuek namun setia dengan temannya serta kepintaran dalam adu fisik pun tak dapat diragukan lagi.

“udah sampe kampus toh”batin Vana

Setelah melihat mobil Dava sudah terparkir di parkiran kampus Vana segera mencari sosok pemilik mobil itu. Sepanjang koridor Vana memutar bola matanya , bosan karena banyak cowok cowok yang menggodanya siapa yang tak kenal Vana cewek dengan wajah cantik, hidung mancung, tinggi semampai serta body goals dan merupakan jajaran cecan atau lebih tepatnya cecan yang most wanted di kampus ini mayoret/maskot andalan angkatan kampus jika sedang ada kegiatan. Namun satu dia memiliki sifat yang bisa dibilang bad, yaitu banyak mantan dan sedikit troublemaker, namun hatinya stuck di Dava.

Setelah berkeliling di fakultas Ekonomi Vana melihat Dava sedang berkumpul dengan teman temannya disudut kantin Fakultas Ekonomi, setelahnya gadis cantik itu mendekat menghampiri Dava yang sedang fokus pada game online di hp nya. Sahabat sahabat Dava sudah dari tadi menyadari Primadona kampus ini sibuk menggoda Vana namun tidak Vana pedulikan karena fokusnya hanya pada Dava.
“ eh ada Vana mau nyariin bang Dava ya?, nih dia tadi katanya kangen loh” seru Reygan cowok dengan rambut sedikit gondrong itu menggoda Vana, cowok yang dikaitkan namanya, Dava hanya mendengus sebal dan menatap datar Reygan, yang dibalas cengiran khas cowok itu.

Memang sudah menjadi rahasia umum di kampus ini jika seorang Vana tergila gila dengan sosok Dava, pertama kali dia mengetahui cowok itu karena di kasih tau foto Dava oleh sahabatnya, awalnya Vana tidak menanggapi bahkan tertarik sedikitpun tidak, namun hingga akhirnya akhir semester kemarin dia melihat Dava yang memenangkan lomba basket bersama teman temannya serta yang dia ketahui selama ini Dava adalah cowok yang baik walaupun dia mempunyai sifat yang cuek tetapi dibalik itu dia tidak akan memperlakukan seorang cewek dengan kasar. Berbeda dengan para mantannya. Namun Dava tidak menanggapi sama sekali bahkan cuek dengan hadirnya Vana yang selalu mengganggunya.

“cepet banget sih sampe kampusnya, terus chat aku kenapa gak dibales semalem padahal kan aku kangen” ucap Vana seraya menaruh dagunya di pundak Dava namun sekilas saja.

“males” hanya itu yang diucapkan Dava, memang Dava ini orang yang irit ngomong apalagi jika sudah berkaitan dengan Vana. Vana yang mendengarnya hanya dapat mengehala nafas, sabar itulah yang dilakukan seorang Vana dalam menghadapi sikap Dava selama ini.

“yaudah aku kelas dulu ya Mas Dava, bye” Vana mengecup singkat pipi Dava dan disoraki teman teman Dava yang melihat. Dava yang menerima kecupan singkat dari Vana hanya diam serta memandang Vana dan juga temannya datar ciri khas cowok itu. Vana pun meninggalkan Dava dkk, dengan tak lupa menjulurkan lidah pada teman teman Dava.

Sepeninggal Vana teman teman Dava sibuk membicarakan apa yang dilakukan Vana pada Dava tadi.

“ Dav, dav kenapa sih lo gak coba buka hati lo buat si Vana, ini Vana men primadona angkatan. cantik? Iya, famous? Iya, sama kayak lo. Bodygoals? Behh jangan ditanya pasti oke., ya walaupun satu sih otaknya yang agak gesrek kayak kita” ucap Doni salah satu sahabat Dava. iya doni yang paling mendukung jika Dava dan Vana bersatu.

“ Gue gak suka di paksa” ucap Dava dan setelahnya dia berjalan menuju kelas karena sebentar lagi kelas nya dimulai. Dan di ikuti teman temannya dibelakangnya. 
Sepanjang koridor menuju kelas yang berada di lantai 3 pandangan cewek cewek kampus tak lepas dari Dava dkk, siapa yang tak kenal Most Wanted nya kampus yang terkenal dengan tampang diatas rata rata. Hal itu sudah menjadi biasa jika Dava dkk lewat karena cewek cewek banyak yang meleparkan sapaan serta memberikan senyuman terbaik mereka namun hanya dibalas dengan deheman atau bahkan hanya dilirik pun tidak. Kecuali Doni yang pada dasarnya yang memiliki sifat playboy dan suka tebar pesona.
***
Sampai di kelas Vana menghampiri 2 sahabatnya yang sudah menempati bangku paling belakang pojok di kelas. Iya Vana memiliki 2 sahabat yang kelakuan dan sifatnya tidak beda jauh dari Vana yaitu tukang rusuh karena kalau gak ada mereka kelas serasa sepi, sifat nya yang gila dan bagi mereka yang tidak mengenal Vana dkk pasti mengira mereka adalah orang yang sombong dan songong walaupun benar adanya tetapi dibalik itu kesolidaritasan mereka bertiga patut di acungi jempol.

Mereka bersahabat dari SMA kelas 10 yang dipertemukan melalui kelompok MOS. Dari situ mereka selama 3 tahun bersekolah di SMA selalu mendapat kesempatan untuk satu kelas mungkin para guru juga sadar bahwa mereka memiliki kemiripan sehingga mereka disatukan dalam kelas. Mereka bertiga memiliki sifat yang tidak jauh berbeda satu sama lain.

Shevana Alexandra, memiliki sifat yang gila, terang terangan menunjukan suka pada cowok yang bernama Dava. suka mengganggu Dava, cantik, tinggi semampai, dianugrahi bodygoals dengan rambut panjang yang diwarnai bagian bawahnya, dan dibuat sedikit curly. Primadona angkatan yang menjadi incaran para cowok dari yang dibawah rata rata hingga diatas rata rata. Tapi walaupun begitu Dava sama sekali tak melirik adanya Vana dan bahkan terkesan acuh dan cuek.

Stephany Putri, memiliki sifat yang galak, paling suka kalau disuruh bully orang, memiliki kata kata yang pedas dan menyakitkan hati, cantik sama seperti Vana, tinggi, bodygoals juga, mantan ketua cheerleaders waktu SMA, rambut panjang juga diwarnai tetapi tidak curly seperti Vana. Rambut Vana diwarnai biru keunguan, sedangkan Stephany sedikit kemerahan.

Renata Suhendra, memiliki sifat yang hampir sama dengan Vana yaitu gila, tomboy, tinggi, cantik, tapi meskipun memiliki sifat yang tomboy Renata memiliki waja yang imut dan manis. Baik pada sahabatnya namun judes pada orang lain. Dengan rambut panjang dan sedikit bergelombang di bagian ujung dengan warna agak keunguan. Dan merupakan incaran salah satu sahabat Dava dari semester 2.

“Dari mana aja lo nyet?” tanya Renata pada Vana, saat melihat sahabatnya itu baru masuk kelas padahal kelas seharusnya di mulai 20 menit yang lalu, tapi beruntungnya dosen sedang off karena anaknya melahirkan.

“Lo kayak gak tau tabiat si cabe satu ini Ren. Ya pasti nyamperin Dava lah, emang ngapain lagi.” Bukan Vana yang menjawab namun Stephany, si mulut pedas.

“Tau aja lo nyet, btw si Pak Bo mana?” tanya Vana karena tidak melihat dosen nya itu ada di kelas. Pak Bo julukan yang diciptakan Vana untuk Pak Samuel, karena beliau botak maka Vana lebih suka menyebutnya Pak Bo.

“Off” jawab Renata, yang hanya dibalas anggukan oleh Vana, seteahnya Vana meletakkan kepalanya pada bangkunya, tabiat Vana selain mengganggu Dava yaitu tidur.
***
saat ini Vana dkk sedang berjalan ke arah kantin dengan Vana yang berada di depan dan kedua sahabatnya ada dibelakangnya. Vana yang paling bersemangat apabila ke kantin karena tak sabar ingin menemui Dava yang pasti sudah berada di kantin dengan teman temannya.

Namun saat melihat ke sudut ruangan kantin Vana langkahnya otomatis terhenti karena melihat Dava sedang ngobrol dengan Salshabila, cewek manis dan anggun anak jurusan Sastra. Dengan teman teman Dava yang melemparkan godaan pada mereka berdua. Hal itu membuat Vana sedikit sesak melihat pemandangan itu, namun akhirnya biasa saja dan segera mencari bangku yang kosong untuk mengisi perutnya yang seketika tidak menjadi lapar.

“Lah si Cabe, tadi perasaan semangat bener deh ke kantin, kenape lu?” tanyya Renata, melihat muka lempeng si Vana.

“noh” tunjuk ke arah Dava dkk, dan Salsha dengan dagunya.

“Hahaha lah baru gitu aja udah lempeng aja muka lo. Dasar!” Tawa Stephany, mungkin memang benar adanya bahwa sahabat akan menolong saat sahabatnya jatuh setelah puas menertawakannya.
“Bangke lo! Buru pesen sana jatah lo ya sekarang!!” sembur Vana. Di sambut gelak tawa kedua sahabatnya. Karena sekarang jatahnya Stephany untuk memesan makanan untuk sahabatnya. Ya mereka, memang seperti itu sejak SMA membagi jadwal pesan makanan.

“ ya odah gue pesen makan dulu. Lo pesen apaan?” tanya Stephany.
“gue bakso sama es jeruk” jawab Renata, si pecinta bakso.
“gue jus alpukat aja” jawab Vana.
“gak bakal gue pesenin sebelum lo pesen makan nyet!!” ancam Stepi pada Vana karena, dia sudah tau jika Vana ini punya riwayat sakit maag, kalau perut tidak diisi makanan bakal collaps.
“gue gak laper njir!” kesal vana.
“bodo amat! Yang penting lo makan. Awas aja kalo lo gak makan, gak bakal gue ijinin ngejar ngejar Dava lagi” ancam Stepi.
“buru dah lu pesen makan Be, gue udah laper ini” tambah Renata.
“ya udah gue pesen batagor sama jus alpukat aja” Vana mengalah.

“oke” Stephany menuju penjual masing masing makanan pesanan sahabatnya dan untuk dirinya.
Sedangkan di tempat Dava dkk, Doni yang menyadari adanya Vana langsung memberi kode pada teman temannya.
“Njir. ada si Vana” ucap Doni pada teman temannya, namun hanya dapat didengar oleh temanya saja, tidak untuk Salsha.
“mana mana??, eh iya tuh” saut si Choki, cowok yang memiliki badan gede diantara mereka.
“wah Vana dkk, makin hari makin cakep aja sih” ucap doni.

“Ye si kadal. Punya pak Bos tuh.” Ucap Toba, nama aslinya Michelle namun karena memunya darah sumatera kerap di sapa Toba oleh sahabatnya, hingga setiap hari selalu di panggil Toba.
“mana ada. Orang pak Bos aja kek gitu. Gue embat tau rasa tuh pak Bos” jawab Doni.

Dava masih mengobrol dengan Salsha karena salsha anak Sastra dan nanti mereka akan mengadakan acara inagurasi untuk mahasiswa baru, jadi mereka latihan pertunjukan drama berhubung Salsha anak sastra dan otaknya juga bisa dibilang oke, maka mereka berdua dipilih sebagai pemeran utama. Jangan tanya kenapa Dava padahal dia bukan anak Sastra bahkan jurusannya sama sekali gak berhubungan dengan itu, satu jawabannya karena Dava cakep, dan famous itu menjadi daya tarik untuk penonton nanti.

Setelah beberapa menit berbincang akhirnya salsha pamit untuk ke kelas karena sudah di tunggu sahabatnya di kantin fakultasnya. Tak lupa pamit pada teman Dava.
“gebetan lu dav?” tanya Toba.
“apa?” jawab Dava.
“siapa nyet bukan apa. Lo udah semester 4 gak bisa bedain ya” sembur Doni. Namun hanya diabaikan oleh Dava. 
“itu tadi si salsha” jawab Toba,
“gak” jawab Dava.
Setelahnya mereka melanjutkan makan yang sempat tertunda karena obrolan itu.

Sedangkan disisi lain Vana melihat itu makin gak semangat makan. Tatapan yang diberikan Dava berbeda saat pada Vana, dengan Slasha dava bisa tertawa dan tersenyum, sedangkan dengan vana melirik pun tidak.
“njir di makan geblek” ucap renata.
“males” jawab Vana. Di bales decakan dari kedua temannya.
“gimana kita labrak aja tuh anak” ucap Stephany. Yang pada dasarnya jiwa jiwa pembully.
“siapa? Salsha?” tanya renata. Dibalas anggukan stepi.
“jangan” ucap Vana.
“lah?! Kenapa?” tanya renata. Tumben biasanya Vana suka kalo begini.
“ gue gak mau kalo Dava khawatir sama Salsha” ucap Vana.
***
Hari ini lapangan basket sedang ramai karena sedang ada pertandingan basket antar jurusan. Terlihat Dava dkk, yang memakai seragam basket. Dan terlihat pula anak jurusan lain yang memakai baju basket sesuai dengan jurusannya. Vana sedang menahan sakit diperutnya karena kemarin gak makan dan saat dirumah ternyata orang tuanya sedang menginap dirumah nenek di bandung, Dan pembantu sedang pulang kampung yang tersisa hanya pak satpam. akhirnya vana hanya makan mie rebus itupun dia beli yang cup karena gak mau ribet.

“anjir, sakit banget ya allah” lirih Vana yang saat ini sedang menunggu Dava di kursi penonton duduk bersama teman kelasnya. Karena kedua sahabatnya sudah pulang duluan  disuruh untuk menjemput kakak Renata yang datang dari Singapura.

“lo kenapa Van? Pucet banget tuh muka?” tanya Rati salah satu teman sekelas.
“gak, gue gak papa Cuma rada sakit perut aja” jawab Vana.
“pms ya lo?” tanya ratih lagi, Vana hanya mengendikan bahu saja. Temannya pun tak berani untuk bertanya lagi.

Pertandingan selesai di menangkan kelas Dava dkk sekarang mereka sedang bergegas untuk ganti baju dan sisanya memilih untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Vana memilih untuk berjalan menghampiri Dava karena ingin pulang bersama Dava, semoga kali ini berhasil batin Vana.
“Dava, aku pulang bareng kamu ya” pinta Vana sembari bergelayut mesra di lengan Dava, namun Dava hanya bersikap biasa saja.
“gak, gue ada urusan” jawab Dava datar.
“emang mobil lo kemana Be?” tanya Toba. Iya, teman teman Dava memang sering memanggil Vana dengan sebutan Cabe seperti yang sering dilakukan kedua sahabatnya. Tetapi Vana tak masalah akan hal itu, dia anggap itu hanya panggilan akrab saja.

“lagi koma di bengkel kemarin sore” iya memang kemarin sore mobil Vana mogok di jalan untungnya dekat bengkel jadi dia bisa menghubungi bengkel terdekat dan Vana dijemput Renata setelah sebelumnya di hubungi oleh Vana.

“Dava, hari ini Salsha gak bisa latihan drama ya, soalnya dia pingsan dan sekarang di uks” beri tahu sahabat Salsha pada Dava. memang hari ini mereka berencana untuk latihan di ruang teater.
“ya udah gue ntar jenguk dia sekalian minta script nya biar gue print” jawab Dava pada Vina, sahabat Salsha.
“oke, gue duluan ya mau beli air mineral buat Slasha” pamit Vina.
Setelahnya Dava menghampiri Salsha di uks, namun di panggilan Doni mengharuskan untuk berhenti.
“ Lo gak nganter Vana dulu Dav, masa lo tega sih ninggalin Vana sendiri” ucap Doni.
“kalo mau ya tunggu aja” jawab Dava yang telah menghilang di balik tembok.
“pulang bareng gue aja yok Van apa mau sama yang lain” ajak Doni pada Vana,
“ gak papa lo pada duluan aja, gue mau nunggu masdep gua aja” cengir Vana yang di hadiahi dengusan sahabt sahabat Dava,
“Ya udah kita duluan ya Be, lu baek baek nunggu tuh Es Batu” ucap Toba.
“siap ati ati lo pada woy” teriak Vana pada sahabat sahabat Dava yang sudah sampai pos satpam dan di acungi jempol oleh mereka, sedangkan Vana duduk di atas motor Dava menunggu si empunya datang.

Sakit yang dirasakan Vana pada perutnya semakin bertambah dan entah kenapa badannya juga berubah menjadi ikut panas. Tak lama terdengar suara sepatu mendekat Vana mengetahui bahwa itu Dava, saat sepatu telah sampai di dekat Vana barulah Vana menegakan kepalanya dan terlihat Dava dengan ciri khas wajah datarnya.
“Salsha kenapa?” tanyanya pada Dava.
“dari tadi pagi gak makan, maagnya kambuh” jawab Dava.

Vana menghela napas mendengar jawaban Dava, saat menyangkut Salsha dava tak segan segan untuk menjawab lebih dari dua kata, namun menyakut dirinya, boro boro di jawab dua kata lebih, dijawab aja syukur syukur. Tak perlu waktu lama Dava sudah siap di motornya dengan helm fullface nya.
“jadi ikut gak?” tanya Dava.
“iya” jawab Vana dengan nada yang sulit diartikan.

Selama perjalanan Vana tak banyak kata hanya diam, tidak seperti kemarin kemarin saat menumpang Dava sebelumnya. Iya, Vana memang kerap menghadang Dava ikut pulang bareng, awalnya Dava menolak namun dibujuk sahabatnya akhirnya Dava memberikan ijin Vana untuk pulang bareng bersamanya. Inilah yang disukai Vana dari Dava walaupun Dava tidak suka dan terkesan cuek tetapi tidak pernah memperlakukan cewek dengan kasar.
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sudah sampai dirumah Vana, pagar tinggi dengan warna coklat itu terlihat kokoh.

“udah sampe!” kata Dava, Vana yang tadinya menahan sakit diperutnya hanya mengangguk tanpa menjawab dan turun dari motor Dava berjalan menuju gerbang dengan susah payah, tak lupa memberikan senyuman terbaik pada Dava.
“terimakasih mas Dava, hati hati ya!” ucap Vana disertai cengiran khas gadis itu.
“hm” jawab Dava. iya tetap datar, dingin dan tak tersentuh.

Vana melanjutkan jalan menuju pagar, hal itu tak lepas dari pandangan Dava, tak ada yang beda dari gadis itu kecuali suhu tubuh gadis itu, yang dapat dirasakan dava saat gadis itu menyentuh lengannya.
“ngapain masih disitu? Mau mampir? Yah maaf banget calon mertua lagi gak ada dirumah, nanti aja ya kalo ada dirumah boleh mampir” ucap Vana saat menyadari Dava masih setia ditempat memandanginya. Hal itu hanya dibalas dengan dengusan kasar khas cowok itu dan setelahnya melajukan motornya meninggalkan Vana yang berjalan susah payah menuju kedalam rumah karena menahan rasa sakit diperutnya.

***

eits stopp sabar bro,, otak gua belom lancar 
oke guys segitu dulu ya, comment dong buat semangat nulis semoga otak gak mampet buat nyari ide bye lope you :* 

salam,
Pejuang hati yang beku eak  :* canda elah 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer